
Berangkat dari Singaparna setelah salat Ashar, saya pamit dulu ke Pak Dedi, sesama wasit babak kualifikasi. Sampai di terminal, bus baru saja melaju. Seorang tukang ojek langsung menghampiri, menawarkan jasa untuk mengejar bus. Setelah cocok harga, saya naik, dan akhirnya bisa berada kembali di atas bus jurusan Jakarta. Saya berencana turun di Cileunyi.
Di perjalanan, melewati Salawu, saya pindah kursi karena AC bus tidak bisa dimatikan—saya memang kurang suka AC kalau tidak perlu. Untuk mengusir bosan, saya mengobrol dengan seorang anak muda yang tampaknya masih SMA, rambutnya agak gondrong, tapi wajahnya ceria.
“Sampurasun, A’. Mau turun di mana?” tanya saya.
“Di Cileunyi, Pak. Mau ke Lembang, ke rumah kakak,” jawabnya.
Saya penasaran dan bertanya lagi, “Aya naon di Lembang?”
“Saya mau kerja, Pak,” katanya sambil tetap tersenyum.
Saya tanya lagi, “Kerja apa?”
“Kerjanya nanti bukan di Lembang, Pak. Di Ujungberung, di tempat konveksi. Tapi saya harus ke Lembang dulu, soalnya kakak yang urus semuanya.”
Mendengar jawabannya, hati saya agak tersentuh. Semangatnya terasa sekali saat bercerita soal kerja di konveksi—pekerjaan yang tidak semua anak muda mau jalani, tapi dia terlihat bangga dan antusias.
Obrolan kami berlanjut cukup panjang, dan akhirnya saya tahu bahwa anak muda ini hanya tamat SD. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil. Mungkin itu yang membuatnya tumbuh lebih cepat dari usianya sekarang—dan tetap tersenyum menghadapi jalan hidupnya.